wanita cantik cerdas kegemaran gaya hidup remaja dengan informasi dunia :D
Beberapa hari setelah kejadian di pinggir danau, Aldo masih saja canggung, dia bingung dengan perasaannya, antara menyesal dan bahagia. Linda juga merasakan perubahan dari diri Aldo saat ini. Aldo benar-benar sudah kelihatan berubah di mata Linda, dia sudah tidak pernah menjahili Linda seperti biasanya, dan bukannya senang, Linda malah merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya, sesuatu yang sejak dulu sangat dibencinya hilang begitu saja. Semestinya dia senang, tapi kenapa dia malah merasa kehilangan? Mungkin tidak biasa saja, begitu batin Linda berbicara, berusaha mendustai hatinya. Tapi belakangan ini Linda sangat dekat dengan Anjar, satu sisi dia sangat senang, tapi di sisi lain dia merasa bingung. Dia baru saja mendapat pernyataan cinta dari Anjar, sudah seminggu Linda belum juga memberikan jawaban, dia masih bingung. Entah apa yang dibingungkannya, dia benar-benar bimbang, mungkinkah karena Deline? Dia juga tidak tahu. Linda lebih banyak diam belakangan ini, Aldo menyadari perubahan yang juga dilakukan Linda, hidup mereka terasa berbeda. Pulang sekolah Anjar sudah berpesan pada Linda untuk menjawab perihal masalah perasaannya. Itu semua membuat Linda semakin gusar, dia sama sekali belum mempersiapkan jawaban yang sesuai dengan perasaannya, semua waktunya terbuang hanya untuk bengong, sungguh terbuang sia-sia semua itu! Dan waktu terus berjalan, sampai pula waktunya pulang sekolah, Linda sengaja memperlambat gerakannya, keluar kelas paling akhir, berjalan pun seperti orang yang berjalan memakai tongkat, benar-benar lambat! Tapi selambat-lambatnya dia berjalan pasti tiba juga di tempat yang dituju, parkiran sekolah tepat di samping mobil Anjar.
Diam..
”Lin, gimana? Udah dapat jawabannya? Kamu udah terlalu lama gantung perasaan aku, jawab sekarang kan?” Anjar begitu berhati-hati melontarkan pertanyaan, dia melihat wajah Linda tampak tak begitu baik. Yang ditanya hanya diam terpaku.
”Lin? Kamu baik-baik aja kan? Kamu hanya perlu jawab sesuai kata hati kamu, gak ada unsur paksaan kok, aku bisa terima semua yang bakal kamu jawab.” Anjar sudah benar-benar pasrah, harapannya sudah kosong, sungguh dia tahu itu! Linda diam, wajahnya tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Anjar.
”Please..aku udah terlalu lama nunggu.”
Linda akhirnya angkat suara.
”Jujur, aku gak tahu apa yang harus aku jawab, aku tertarik sama kakak, tapi aku gak tahu apakah baik untuk kita pacaran? Aku takut semuanya sia-sia.”
”Bisa kamu coba kan?”
”Aku gak tahu.”
”Aku janji kamu gak akan pernah menyesal, please..cuma kamu yang bisa bikin aku senang, aku benar-benar sayang sama kamu, dan aku mau kamu jadi milik ku, Cuma kamu Lin..” Anjar begitu memohon, Linda sampai tidak tega melihatnya.
”Janji? Aku gak akan di mainin, bakal dijagain, disayangin, janji??”
“Janji.” Jawabnya mantap.
Linda hanya tersenyum lebar, tak tahu itu tulus atau tidak, yang dia rasakan hanya perasaannya yang sudah lega. Terlebih Anjar, hampir saja dia melompat saking girangnya, dia hanya bisa memendam itu semua, tapi takkan pernah bisa menghapus rasa bahagianya dari wajahnya, begitu berbinar-binar. Linda tertawa melihatnya. Sementara Deline dan Aldo merasakan perih yang luar biasa di hati mereka. Anjar mengantar Linda pulang, semua sudah berakhir namun menjadi awal kisah baru..
***
Di tempat yang berbeda, Aldo ada di danau, sedangkan Linda ada di kamarnya. Keduanya menatap ke arah langit, penuh harapan, penuh bimbang, rasa yang tak beraturan, keduanya juga meneteskan air mata, membiarkan air matanya bergulir. Linda bingung akan perasaannya, dia semestinya senang sudah mendapatkan yang dulu ia inginkan, tapi kenapa sekarang begini? Dia tidak tahu, dia tidak puas dengan semua ini, tanpa dia tahu sebabnya, ada sesuatu yang ia rasakan di bibirnya, mungkin sebuah getaran. Dia menyentuh bibirnya, merasakan ada sesuatu yang pernah abadi di sana, tanpa dia tahu apa itu? Tapi dia kembali sadar, Anjarlah yang dia cintai selama ini, ya! Itu pasti, dia harus yakin akan keputusan yang sudah terlanjur dibuatnya. Dia akhirnya memilih untuk tidur. Sementara Aldo, dia tetap meratapi semuanya, hancur sekali hatinya, ini tidak adil menurutnya, dia berdiri lalu menendang rumput-rumput, tindakkan bodoh!
”TOLOL!!” dia berteriak sekencang-kencangnya, lalu berlari pulang.
Di ujung sana Linda kembali membuka mata, merasakan panggilan batin, dadanya sesak, dia duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam, dan dalam hitungan detik kembali untuk melanjutkan mimpi.
***
Pagi yang cukup mengejutkan, Linda mendapati Aldo menduduki bangkunya. Aldo terlihat lesu, pucat tak bersemangat, tapi yang paling dipertanyakan adalah, apa yang dilakukan Aldo di bangkunya? Segera ia berjalan untuk mencari tahu jawabannya.
”Ngapain lo di sini?”
Aldo mengangkat wajahnya, wajah yang sangat berantakkan!
”Lo udah jadian sama Anjar?”
”Apa urusan lo?”
”Lo udah jadian apa belum!!” suaranya meninggi, menandakan keseriusannya.
”Udah! Kenapa? Gak suka?”
”Bego lo ya!” Aldo segera menjauh dari hadapan Linda, duduk di bangkunya dan terdiam lalu memendam wajahnya. Linda yang sedari tadi berdiri merasakan sesuatu yang aneh, Aldo terlihat jauh berbeda, apa yang membuatnya demikian? Linda hanya bisa duduk dan berpikir. Pikirannya terus tertuju pada Aldo, bahkan saat jam pelajaran dimulai dia tetap memikirkan Aldo. Saat dia tersadar Aldo tak lagi ada di bangkunya, kemana dia? Linda mencari-cari bayang Aldo di sudut-sudut kelas, tapi tak juga dia temukan, Abel yang melihat segera bertanya.
”Cari apa Lin?”
”Aldo.”
”Hah?! Gak salah nyari Aldo?”
”Iya gue serius, Aldo di mana?”
”Tadi sih dia keluar, kalau gak salah mau ke UKS deh, kenapa sih?”
Linda tak menjawab, dia justru mengacungkan tangan untuk meminta izin keluar kelas, alasannya sih mau ke toilet, tapi dia berbohong dan dia diperbolehkan. Abel yang memperhatikan hanya diam termangu.
Linda mempercepat langkahnya, UKS cukup jauh dari kelasnya, tangannya bertaut, dia khawatir! Ya, dia khawatir pada Aldo. Saat tiba di pintu UKS Linda sempat mengurungkan niatnya untuk melihat Aldo, tapi rasa khawatirnya begitu keras mendorong, akhirnya masuklah dia ke dalam UKS. Dia dapati Aldo yang sedang tertidur, wajahnya pucat sekali tapi begitu tenang, Linda mendekat menatap lekat-lekat wajah orang yang sangat di bencinya dan tanpa terasa jatuhlah air matanya tepat di wajah Aldo, perlahan terbukalah mata Aldo.
”Ngapain lo di sini?”
”Eh..ehm..nggak, tadi gue pusing terus ke sini nyari minyak kayu putih.”
”Terus kenapa nangis?”
”Nangis? Siapa yang nangis?”
”Jangan bohong, gue ngerasain kok air mata lo jatuh di muka gue, kenapa? Gak usah sedih gue masuk UKS, biasa aja kali.”
”Enak aja! Itu bukan air mata tau.”
”Terus apa?”
”Ehmm....itu tuh, eh..ehm..”
”Apa???”
”Tadi gue meler terus netes ke lo deh, hehehehe, sorry ya..”
”Eh kurang ajar lo!!” Aldo yang panik segera mengelap wajahnya.
”Sorry ya, lo sakit apa sampai masuk UKS? Males belajar ya?”
”Enak aja! Gue sakit apa ya? Macem-macem sih.”
”Apa aja? Sebutin dong!”
”Pusing, demam, maag, sama sakit hati.”
’Sakit hati’, apa maksud dari sakit hati? Linda yang mendengar jawaban itu langsung keluar meninggalkan UKS. Aldo tersenyum melihat tingkah laku Linda yang gelagapan, lalu tertawa mengingat jawaban Linda kalau tadi itu bukan air mata tapi dia meler? Sungguh tak masuk akal, dia yakin Linda menangis, dan itu sedikitnya dapat mengobati sakitnya.
Label: cerita berseri

Hari ini hari libur, Linda masih saja terlelap dalam tidurnya, masih juga bergulat dengan mimpinya. Tiba-tiba deringan bekernya membangunkannya dari tidur. Segera dia matikan bekernya, dia masih terdiam di sisi ranjang, merenggangkan otot-otonya yang masih kaku, sesunggunhnya dia masih mengantuk. Dengan lemas dia menyibak tirai, seketika cahaya masuk membuatnya silau, dia mulai membiasakan cahaya tersebut terlihat olehnya. Masih memakai piyama, dia keluar dari kamar tanpa cuci muka terlebih dahulu. Dia menuju ruang makan.
”Maa..aku laper nih, udah ada makanan belum?” dia langsung mempersiapkan diri makan di meja makan.
”Belum cuci muka juga, mandi dulu sana, paling setengah jam lagi selesai nih, kamu mandi dulu biar gak bau, sana!!”
”Iya..iya, kalo aku udah selesai makanannya juga udah siap ya!”
”Bawel ya kamu!” mamanya hanya tersenyum, sementara Linda kembali lagi ke kamarnya hendak membersihkan diri. Setelah beberapa menit mandi, Linda kembali turun ke ruang makan, dan dengan wajah yang berbinar melihat berbagai macam santapan sudah tersedia di meja makan. Dia langsung mengambil piring, mendahului papa, mama, dan kakaknya. Ketiga keluarganya itu hanya geleng-geleng.
”Napas Lin, kelaperan apa doyan kamu?” kak Dhika tersenyum pada adiknya.
”Laper tau gak! Maaf ya semuanya Linda makan duluan, hehe”
”Dasar kamu itu ya!” sang papa berkomentar, yang disindir hanya cengengesan, Linda mulai menyuapi sesendok nasi bercampur lauk pauk dan mencampurnya di dalam mulut. Wajahnya memberi isyarat bahwa masakan mamanya sangat enak, Tante Lisa tertawa kecil. Beginilah keluarga kecil tersebut, penuh tawa walaupun terkadang keributan sering terjadi, terutama antara Linda dan Dhika kakaknya. Selesai makan Linda langsung keluar rumah untuk berkeliling kompleks, ya mungkin sedikit kesiangan, tapi gak apa-apalah. Hehe..
Seperti harai-hari libur sebelumnya, Linda mampir ke danau yang ada di ujung perumahan, saat danau sudah tertangkap oleh matanya, dia berlari kemudian berputar-putar di samping danau, manghirup dalam-dalam udara di sana, dia tertawa sendiri. Entah apa yang menyihirnya, dia sangat teramat merasa lebih baik jika berada di sana, dia menjatuhkan dirinya direrumputan. Menatap mentari, kemudian memejamkan mata, merasakan semilir angin pagi membelai wajahnya, begitu indah hidupnya saat itu. Dan itu tak berlangsung lama.
”Ngapai di sini? Kayak anak kecil lo tadi gue liat.”
Aldo!!
”Elo? Ngapain lo di sini? Ini kan tempat gue, lo gak boleh ke sini!”
”Eh buseeett, emangnya udah lo beli nih tanah? Seenak jidat lo larang-larang orang.”
”Tapi kan gue ke sini mau nenangin diri, terutama menghindari lo! Jadi jangan pernah ke sini!”
Linda mendorong-dorong Aldo, tapi Aldo tetap di situ, malah dia duduk di samping Linda, Linda pasrah saja.
”Lo kalo dapet tempat kayak begini tuh ajak-ajak gue dong.”
”Justru gue di sini biar gak ketemu lo!”
Aldo menyuntrungi kepala Linda, dan Linda memebalasnya dengan pukulan. Aldo tertawa, sangat kencang.
”Huss, berisik gila! Diliatain orang nih.” Linda membekap mulut Aldo.
”Ya udah sih..”
Aldo menarik wajah Linda, dia menatapnya dalam-dalam, Linda kian deg-degan saat Aldo semakin mendekatkan wajah mereka, semakin dekat dan semakin dekat. Linda menutup matanya, mungkinkah ini saatnya dia merasakan first kiss? Dengan musuhnya??
”Mandinya gak bener nih ada beleknya.” Aldo mencongkel kotoran yang ada di mata Linda, dan jelas itu mambuat Linda pucat pasi, bukan hanya ketahuan ada kotoran di matanya, tapi juga betapa bodohnya dia kalau tadi dia berpikir akan dicium sama Aldo? Tanpa berlama-lama Linda pergi dari situ, berlari sekuat mungkin, dia tak mau menatap Aldo lagi saat itu, malu..
Aldo terdiam melihat Linda yang salting begitu, dia tertawa sendiri.
***
”Bego, bego, bego!! Ngapain juga coba mikir kalo dia bakal cium gue? Dia musuh lo Linda! Gak mungkin banget.” Linda mengomel sendiri saat sudah sampai di depan rumah.
”Siapa yang mau cium kamu Lin?”
Tiba-tiba seorang laki-laki berkomentar, dan Linda bisa pastikan kalau itu adalah Kak Anjar. Deg, aliran darahnya seperti berhenti mengalir.
”Eh, hmm..gak kok, bukan siapa-siapa. Kakak kok di sini? Ada apa?”
”Aku dateng kesini cuma mau mastiin kalo kamu baik-baik aja, soalnya kemaren Aldo datang ke kelas aku,terus marah-marah gitu soalnya Deline mau ngelabrak kamu gara-gara aku, tapi tadi udah aku tanya sama mama kamu, katanya Aldo bantuin kamu ya?”
”Ehmm..iya sih, dia sampai luka-luka juga.”
”Ya udah mulai besok aku aja yang anterin kamu, gimana?”
”Aduh gimana ya? Entar kak Deline makin marah sama aku?”
”Tapi kalo kamu sama aku kan dia gak mungkin berani macem-macem sama kamu?”
”Ya udah deh, gimana baiknya aja.”
”Oke deh, ya udah aku mau pulang dulu, ada urusan. Inget besok kamu aku jemput pas mau berangkat sekolah, pulangnya juga aku anterin, bye..”
”Bye..”
Diam-diam Aldo mengintip dibalik tembok, sepertinya dia tak suka dengan percakapan antara Linda dan Anjar.
***
Malam itu Abel, Icha dan Dery sedang main ke rumah Linda. Mereka berkumpul di teras depan rumah, berbagai hal mereka bicarakan, terutama masalah cewek, yang jelas saja membuat Dery tidak betah sama sekali. Akhirnya Dery memutuskan untuk mengirim sms pada Aldo, dia tahu bahwa rumah Aldo itu dekat dengan rumah Linda, tapi Dery mengirim pesan itu tanpa sepengetahuan teman-teman ceweknya, bisa di bunuh dia kalo mereka tahu Dery menyimpan nomor Hp Aldo, terlebih menyuruhnya ikut bergabung. Dan tamu tak diundang pun datang, wajah para cewek-cewek berubah, sedangkan Dery bersyukur sekali. Hehe..
”Ngapai lo ke sini?” Linda langsung bertanya.
”Main aja, kenapa? Gak boleh?”
”Udah tau nanya lagi!”
”Dasar cewek gak tau terima kasih! Udah gue tolongin masih aja jutek sama gue, lagian lo semua gak kasian apa sama Dery? Udah cowok sendiri, ngobrolin masalah cewek, jelas dia butuh temen dong?”
”Bawel lo ya! Ya udah kalo lo mau temenin Dery, ajak aja dia ke rumah lo.”
”Lagi males di rumah, makanya gue ke sini.”
Linda tak lagi membalas ucapan Aldo. Dia lebih memilih untuk melanjutkan obrolannya sama Icha dan Abel.
”Oh iya, kemarin Abel ngobrol sama sepupu Abel yang tinggal di Australia, dia nanya sama Abel, first kiss Abel sama siapa? Abel bilang aja belum pernah, masa Abel diledekin? Kata dia kalo seumuran kita ini udah pas banget buat ngerasain itu. Linda sama Icha udah ngerasain belum?”
Spontan Linda teringat kejadian di pinggir danau tadi pagi, mukanya bersemu.
”Kayaknya Linda hampir deh.” Aldo langsung nyeletuk begitu saja, pipi Linda kian memerah.
”Linda udah? Ceritain dong..” Abel langsung histeris.
”Bohong Bel, gue belum pernah.”
”Kan kata gue juga hampir.”
”Kok Aldo tau sih?” tanya Abel.
”Aldo tea..apa sih yang gue gak tau?”
”Jadi belum pernah semua nih?” Abel kembali menanyakan. Dan di jawab dengan anggukan teman-temannya.
”Ya udah kalo gitu Abel mau tanya, kalian mau first kiss kalian sama siapa?”
”Kalo gue sih mau sama Will Smith aja, hehe..” Icha yang pertama menjawab, dan ternyata menuai kontrofersi, suntrungan bertubi-tubi melayang di jidatnya. Tapi dia masih tetap nyengir kuda.
”Kalo Dery nih ya, pengen banget di cium sama...gak tau juga sih, pokoknya cewek pertama gue yang bakal dapetin itu, hehe..”
”Abel mau banget dicium sama cowok paling ganteng yang pernah Abel kenal, kalo Linda sama Aldo?”
”Kalo gue sih, sama cowok yang paling ganteng di sekolah, yang baik banget sama gue.”
”Kak Anjar ya Lin?”
”Mungkin..”Linda sebenarnya tak bersungguh-sungguh mengatakan itu, dia hanya mau melihat ekspresi Aldo, dan kalo Aldo membalas sindirannya, bisa jadi Aldo itu suka sama Linda.
”Kalo gue bakal cium orang yang paling gue sayang, yang selalu gue lindungin, sekalipun dia gak pernah sadar itu, dan gue harus dapetin first kissnya. Haha..”
”Kalo dia udah pernah ciuman gimana?”
”Kalo sekarang gue yakin dia belum, tapi buat mengantisipasi gue bakal cium dia sekarang juga kalo gue mau.” Aldo menjawab mantap, semua pendengar cengo, terutama Linda.
”Lin lo kenapa? Oh iya lo gak mau nunjukin tempat spesial lo sama anak-anak? Kalo mau kita ajak mereka aja sekarang.”
”Eh..gak kenapa-napa kok, ya udah terserah lo aja Aldo.” Linda gagap, salting, membuat teman-temannya heran sekaligus menaruh curiga bahwa wanita yang disebutkan Aldo adalah Linda. Akhirnya mereka pergi ke danau itu. Tak disangka sama sekali oleh Linda, danau itu jauh lebih indah di malam hari, airnya berkilauan memantulkan cahaya bulan, anginnya semakin menusuk, begitu romantis menurut Linda. Dan Linda rasa teman-temannya sependapat sama dia.
”Gimana? Bagus kan? Kayaknya enakan malem dateng ke sini.” Aldo berkomentar, namun tak satupun dari mereka yang menjawab, tapi bisa dipastikan jawaban mereka adalah iya. Mereka berlima membaringkan diri mereka di rerumputan yang dingin, memandang langit bertaburan bintang. Saking tenangnya Linda sampai tertidur, padahal teman-temannya sudah mau pamit pulang, akhirnya mereka pulang tanpa pamit sama Linda, itu juga atas perintah Aldo, alesannya sih biarin Linda tidur, gak enak dibangunin. Dan kini hanya ada mereka berdua di sana, jantung Aldo tiba-tiba berdetak kencang. Dia kembali mengingat ucapannya mengenai first kiss, apakah ini saatnya? Batinnya. Dia memutar badan sehingga menghadap Linda, dia pandangi wajah gadis itu, begitu manis diterpa cahaya rembulan, tak pernah dia melihat wajah Linda semanis ini. Tak begitu sadar, ia membelai lembut kepala Linda, mengusap pipi Linda dengan punggung tangannya. Tekadnya kian bulat, dia dekatkan wajahnya.
”Gue adalah orang yang berhak dapetin first kiss lo Lin, karena gue tau akhirnya lo bakal jadi milik gue.”
Dan itu terjadi, mata Aldo terpejam, dan perlahan dia mengecup bibir Linda lembut, tak begitu lama, dia kembali mengangkat wajahnya. Pipinya memerah, tak disangka semudah ini semuanya terjadi. Tidak mau berlama-lama bergulat dengan perasaannya, dia mengguncangkan tubuh Linda sampai Linda membuka matanya.
”Kenapa sih? Loh, anak-anak pada kemana?” Linda bingung mendapati dirinya hanya berdua dengan Aldo.
”Dah pada balik, lo tidur kayak kebo sih.”
”Tapi lo gak macem-macem kan sama gue?” Linda curiga.
”Gue? Ngapa-ngapain lo? Apanya yang bisa gue apa-apain? Gak ada satupun sisi dari badan lo yang menarik buat dia apa-apain. Ya udah balik yuk!”
”Enak aja lo ngomong! Ya udah balik deh.”
Akhirnya mereka berdua pulang menaiki sepeda yang dibawa Aldo tadi, tentu Aldo mengantar Linda sampai rumah, entah apa yang menyelimuti perasaan mereka malam itu, semuanya terasa begitu indah. Terutama Aldo, baginya malam ini adalah malam yang sangat dia imipikan selama ini. Sesungguhnya dia mengharapkan lebih dari pada malam ini, dan dia ingin semuanya menjadi kenyataan.
Label: cerita berseri
“Lindaaa!!” Abel menjerit saat melihat Linda, dia berlari kearahnya.
“Kenapa lo?”
“Ceritain yang kemarin dong, yang kamu jalan sama kak Anjar, Abel mau tau.” Abel seperti anak kecil yang menginginkan permen.
“Sabar dong, entar gue ceritain di kelas.”
Mereka masuk ke kelas, di sana Icha dan Dery sudah menunggu dengan rasa penasaran yang sama, Linda ingin sekali tertawa melihat ekspresi mereka, terlebih mengetahui Dery yang biasanya ngaret, sekarang datang lebih pagi hanya untuk mendengarkan cerita Linda.
“Madesu semua lo.” Linda mengejek.
Mereka bertiga tak memperdulikan ledekan tersebut, yang ada di kepala mereka hanya cerita Linda.
“Udah buruan cerita kenapa!” Icha sudah tak sabar.
“Sabar dong..” Lida menarik napas dan kembali bercerita.
“Kemarin diajak kemana aja lo?” Dery memasang tampang serius.
“Kemarin gue cuma diajak makan aja.”
“Wah.. gak ngajak-ngajak”
“Ngajak? ya enggak lah, ya cuma itu aja sih, habis itu gue di anterin pulang, kita juga udah tukeran nomer Hp, hehe.”
“Wuiiihh, Linda kamu beruntung banget ya, coba Abel jadi Linda, uuhhh..seneng banget.”
BRAAKK!!
Terdengar suara pukulan yang kencang, sepertinya seseorang baru saja menggebrak pintu kelas, semua orang tertegun melihat orang yang baru saja membuat kehebohan di kelas, termasuk Linda dan ketiga kawannya.
“Lin, masalah besar Lin..”Dery berbisik.
“Linda! gue mau bicara sama lo!” Deline berteriak.
“Ada apa kak?” Linda berusaha bersikap santai, tapi dia tidak bisa sepenuhnya menutupi perasaan takutnya.
“Gue kasih tau sama lo, jangan pernah lo deket-deket sama Anjar lagi! dan kalo sampai gue liat lo bareng dia lagi, lo bakal tau sendiri akibatnya.”
“Kakak gak punya hak buat larang saya deket sama siapa pun, termasuk kak Anjar, kakak bukan siapa-siapanya dia kan? dan yang saya tau kak Anjar yang bilang sendiri, kalo dia itu gak mau diganggu sama kakak, bukan sama saya!”
“Oh.. udah pinter ngomong lo ya sekarang? malu dong lo ngerebut gebetan orang!! dasar anak ingusan!”
“Saya gak akan malu, kalo dia pacar kakak baru saya malu.”
Deline sudah benar-benar kehilangan akal sehat dan kesabarannya, dia menarik Linda keluar, tapi ada seseorang yang menghalanginya, dan dia Aldo.
”Eh lo gak usah ikut campur ya!”
“Gimana gue gak ikut campur? Gue ketua kelas di sini, dan lo udah bikin kerusuhan di kelas gue, gue berhak ikut campur!” Aldo merebut Linda dari tangan Deline.
“Gue heran, kenapa sih banyak banget yang belain dia?!” Deline menunjuk Linda.
”Gue minta lo keluar dari kelas ini!”
”Siapa lo, hah?!! Gue kakak kelas lo tau gak!”
”Dan kalo lo kakak kelas gue lo mau apa?! Lo pikir karena lo senior, lo bisa seenaknya? Kita semua sama-sama bayar di sini, jadi lo gak berhak sama sekali atas semua yang ada di sini!”
”Baru kali ini ada yang berani ngomong gitu ke gue, sialan ya lo semua!! Oke kalo lo gak mau ada keributan di kelas lo, gue bakal selesein urusan ini di luar sekolah, dan itu gak akan main-main! Dan lo Linda, siapin diri lo!” Deline keluar sekali lagi dengan gebrakan pintu yang keras, semua terdiam tak ada yang berani berkata-kata. Sesaat Linda melirik ke arah Aldo heran, tumben juga dia belain gue? Begitu pikirnya. Aldo segera berlari keluar.
”Lin, lo liat kan musuh bebuyutan lo belain lo tadi.” Icha masih takjub dengan kejadian barusan.
”Wah..Linda, kamu hebat ya, ada dua cowok yang care sama kamu, aku aja yang cantik gak ada yang pernah belain aku sampai segitunya.” Abel ikut-ikutan takjub, tapi jawabannya mengundang rasa geregetan Dery, dengan gemas Dery menjewernya.
”Pede banget lo.”
Abel hanya diam, mengusap-usap telinganya.
Sementara di kelas XI IPA 2 , tepatnya kelas Anjar..
”Anjar, gue mau ngomong sama lo.”
”Siapa nih? Songong amat? Pake ’kak’ dong kalo manggil kakak kelas!” seseorang berusaha menggurui Aldo.
”Bulshit!” Aldo membalas perkataannya, dia berpikir untuk apa menghormati kakak kelas kalau kakak kelas itu sendiri tak pantas dihormati? Sedangkan lelaki itu hanya geleng-geleng.
”Kenapa lo?”
Aldo langsung menarik kerah baju Anjar.
”Lo kenapa sih? Nyantai dong.”
”Gue kasih tau sama lo, jangan deketin Linda lagi!”
”Apa urusan lo? Lo bukan pacarnya Linda kan? Lo gak berhak larang siapa pun buat deket sama dia!”
”Tapi gara-gara lo Linda sekarang kena masalah!!”
”Masalah apa?”
”Deline!! Jadi mendingan lo gak usah ganggu Linda lagi, karena gue gak mau kalo Deline sampai macem-macem sama Linda.”
”Lo care banget sama Linda? Lo suka sama dia, dan lo merasa gue bakal ngerebut dia gitu?”
Tanpa banyak bicara Aldo meninju wajah Anjar.
”Lo denger kata-kata gue!” Aldo pergi begitu saja. Tadinya teman-teman Anjar yang melihat sikap Aldo yang bisa dibilang kurang ajar ingin sekali mengeroyok anak itu, tapi Anjar menahan mereka, Anjar tidak mau ada masalah baru lagi.
***
Jam pelajaran terakhir telah usai, kini saatnya pulang. Semua murid berhamburan keluar, dan inilah saat yang ditakuti Linda. Dia berpikir hal apa lagi yang akan dilakukan Deline padanya.
”Aduh gimana nih? Entar kalo gue dikeroyok dijalan gimana?”
”Gimana ya Lin?” Icha ikut berpikir.
Beberapa menit berlalu, mereka masih tidak bisa mendapatkan solusi.
”Eh lama banget sih lo!” Aldo menegur Linda.
”Lama apaan sih?”
”Lo pulang bareng gue, cepetan!!”
”Yee...galak banget sih? Lagian siapa juga yang mau bareng sama lo?”
Aldo menarik tangan Linda, lebih tepatnya menyeret.
”Lepasin gak!”
”Bawel ya jadi cewek? Udah ikut aja kenapa?!”
”Ya udah tapi gak usah pake narik-narik gitu dong.”
Aldo tetap saja tak melepaskan genggamannya, bahkan merenggangkan saja tidak, dia tetap menarik Linda dengan paksa.
”Sakit Do..”
”Naik buruan.” Aldo memberi komando agar Linda segera naik ke motornya, Linda menurutinya.
Saat di jalan, ada sebuah mobil sedan hitam yang mengikuti mereka, Aldo sudah sangat yakin itu Deline. Aldo menambah kecepatan motornya, begitu pula mobil tersebut. Berulang kali Aldo hampir menabrak, hingga akhirnya mobil tersebut berhasil mencegat mereka berdua.
”Mati gue!” Linda pasrah.
Terlihat ada beberapa laki-laki yang menyertai langkah Deline, mereka bertubuh kekar, tampangnya juga sangar. Aldo juga sempat takut melihat otot-otot itu, keringat dingin mengucur di pelipisnya.
”Oh, jadi lo minta bantuan ketua kelas lo buat lindungin lo?! Tapi sayang, ketua kelas lo ini gak bisa bilang ’jangan bikin keributan di kelas gue!’. Hemm..itu gak akan terjadi baby, dan sesuai janji gue, lo bakal terima apa yang emang pantas lo terima.” Deline menjentikkan jarinya, itu adalah tanda bahwa Deline memerintahkan anak buahnya untuk melakukan sesuatu yang sudah diperintahkannya. Aldo menghalangi preman-preman itu.
”Eh lo! Gak usah sok jagoan, lo gak usah repot-repot jagain tuh cewek genit! Lo mau kalo lo bonyok gara-gara tuh cewek?”
”Lo bawa anak buah, apa salahnya kalo dia minta bantuan gue?”
”Ya udah kalo lo maunya begitu. Habisin mereka!” Deline segera masuk ke mobil, sedangkan Aldo sudah berjaga-jaga, preman-preman itu tersenyum jahat, memeperlihatkan giginya yang tidak cukup bagus untuk dipamerkan. Dan mulai lah perkelahian itu, setelah adu jotos dan membuat Aldo babak belur, para preman tersebut hendak menghajar Linda, tapi niat mereka terkurung, beberapa warga datang untuk membantu. Linda dibantu warga sekitar, membawa Aldo ke rumahnya.
***
”Udah sadar lo?” Linda sedikit kaget saat Aldo membuka matanya.
”Kok gue di rumah lo sih?”
“Kalo gue bawa lo pulang apa yang harus gue bilang sama orang tua lo? Bisa mampus gue, kalo mereka tau anaknya bonyok gara-gara gue.”
Mereka tersenyum.
”Makasih udah bantuin gue.”
”Jangan Geer! Kalo pun bukan lo yang kena masalah pasti gue bantu kok.”
”Ya udah sih, yang penting gue udah bilang makasih.” Linda jadi bad mood.
”Ya udah gue balik deh.”
”Yakin lo bisa naik motor kalo lagi luka-luka gini? Mending lo tungguin kakak gue, biar dia yang anterin.”
”Gue bukan lekong! Sini kunci motor gue!”
Linda melempar kunci motornya tepat mengenai dadanya.
”Nak Aldo kamu mau kemana?” tante Lisa tiba-tiba muncul.
”Mau pulang tante.”
”Loh, kamu kan masih sakit, tunggu sebentar lagi ya, biar dianterin pulang sama Dhika.”
”Gak usah tante, ya udah Aldo pulang dulu ya, lagian Linda nya galak banget marah-marah mulu.”
Spontan tante Lisa memelototi Linda, dan Linda memelototi Aldo.
”Bohong mah! Ya udah kalo mau pulang ya pulang aja!”
”Linda!! Gak boleh gitu.”
”Gak apa-apa tante, udah biasa.”
”Maaf ya nak, makasih juga kamu sudah lindungin Linda.”
Linda makin cemberut.
”Iya tante, sama-sama, selamat sore tante.”
”Sore. Linda anterin sampai depan.”
”Gak mau!”
”Ayo dong sayang, nanti Aldo pingsan lagi gimana? Anterin gih.”
”Iya..iya..” Linda terpaksa menuruti kata mama nya, dia masih saja cemberut sampai teras.
”Muka lo gak enak banget sumpah!”
”Udah deh diem! Kalo mau pulang buruan! Gue mau mandi nih.”
”Iya bawel!!”
Aldo menaiki motornya dan bersiap-siap tancap gas.
”Jangan bohong lo, lo peduli kan sama gue, khawatir kan tadi? Gue bisa rasain gimana tangan lo bersihin luka gue dengan lembut, gitu ke’ dari dulu, itu baru namanya balas budi! Gue rela luka lagi asal lo bayar pengorbanan gue sama belaian lo yang...beuh, mantap!! Hahaha.” dan dia tancap gas sebelum dihajar Linda.
”AWAS LO BESOK!!”
Dia termenung memikirkan kalimat yang dilontarkan sama Aldo, apa benar Aldo menyukai sikap Linda yang begitu mengkhawatirkan dia? Lagian apa alasannya dia bela-belain bonyok buat Linda? Selama ini kan mereka musuhan. Dia baru sadar, Aldo selalu ada buat lindungin dia.
”Mungkinkah dia suka sama gue??” bisik Linda dalam hati, dia tersenyum tanpa sadar, dan berlari masuk ke rumah.
Label: cerita berseri
”Linda!”
Ada seseorang yang memanggil Linda, Linda yang lagi asyik tertawa kemudian memutar tubuhnya, mulutnya menganga saat melihat cowok yang memanggilnya barusan. Cowok itu kemudian berlari ke arah Linda, Linda semakin deg-degan.
”Kamu Linda yang kemarin kan?”
”Iya kak, kakak yang namanya Anjar kan?” Linda tertunduk, mukanya memerah, dia takut Kak Anjar marah karena dijutekin sama Linda kemarin.
”Boleh ngobrol sebentar?”
Linda menengok kebelakang meminta pertolongan dari teman-temannya.
”Boleh kok kak.” Abel yang menjawab disertai anggukan Dery dan Icha, Linda sebal melihat senyuman nakal teman-temannya.
”Ikut sebentar ya Lin.” tanpa menunggu jawaban Linda, Anjar langsung menariknya, Linda memasang wajah sedih pada temannya berharap mereka akan membantu, tapi yang ada mereka malah melambai-lambaikan tangan.
Ternyata Anjar membawanya ke taman belakang sekolah, Linda semakin gusar.
”Kita mau ngapain sih kak?”
”Kakak mau minta maaf sama kamu masalah kemarin.”
”Yang mana?”” Linda pura-pura bego.
”Kakak gak tau pasti yang mana, tapi kakak kemarin liat kamu jutek banget sama kakak, pasti kakak punya salah, dan setelah kakak mikir mungkin kamu marah waktu kakak ngetawain kamu dilapangan.” suaranya merendah takut Linda sakit hati.
”Oh..iya sih, habisnya Linda malu kemarin kakak ketawain, kan kesannya aku konyol banget didepan kakak, iya kan?” pipinya semakin merah.
”Hahaha, kamu tuh lucu banget ya?”
”Kenapa?”
”Pipi kamu merah tuh.”
Linda menutup pipinya.
”Gak usah ditutup, oke gini intinya, kakak mau minta maaf sama kamu, dan kakak mau ngajak kamu jalan pulang sekolah nanti.”
Mata Linda terbelalak, bisa dipastikan baru pertama kali dia diajak jalan sama cowok seganteng ini.
”Aduh gimana ya kak?”
”Harus mau ya?” mata Anjar begitu memohon, Linda bisa lihat itu.
”Ya udah deh.”
Anjar begitu girang disaat Linda mengiyakan ajakannya.
”Kakak tunggu diparkiran ya pulang sekolah, awas kalo kabur!” Anjar tersenyum begitu manis sampai membuat hati Linda begitu senang.
Tak lama kemudian Linda sudah berada ditengah-tengah temannya, wajahnya begitu menampakkan raut bahagia, teman-temannya lantas penasaran.
”Linda kenapa? Tadi kamu ngapain aja sama Kak Anjar? Cerita dong..” Abel menarik-narik lengan baju Linda.
”Iya nih Linda lo ngapain sama dia?”Icha juga penasaran.
”Dasar cewek, baru diajak ngobrol gitu aja udah kesemsem begini..ato jangan-jangan lo dicium ya di belakang sekolah!!” Dery panik, suntrungan bertubi-tubi dari tiga cewek itu mendarat dijidatnya.
”Ngomong sing bener dong, enak aja!” Linda cemberut.
”Terus kenapa dong?” Dery meringis.
”Gue diajak jalan!!!!” Linda begitu heboh, sampai seisi kelas memeperhatikannya, tapi dia tetep cuek.
“Hah!! Yang bener?? Kita baru berapa hari disini, kamu udah ada yang ngajak jalan?” Abel berbinar-binar.
”Sama kak Anjar lagi, cowok itu kan ganteng banget.” yang ini Icha yang berkomentar, sedangkan Dery hanya mendecakkan lidahnya.
”SIRIK!!” Linda, Abel, dan Icha membentak Dery, Dery akhirnya memilih tuk diam.
”Ya elah baru diajak jalan doang senengnya kayak gitu, norak lo semua!” Aldo ikut memanaskan suasana, dan mengajak Dery ber-tos ria.
”Dery kok tos sama Aldo sih?” Abel protes, dia tau bahwa Aldo adalah musuh bebuyutan Linda.
”Habisnya lo semua gak ada yang sependapat sama gue.”
Abel tambah melotot.
”Dan lo Aldo, gak usah ikut campur urusan gue deh, lo bukan siapa-siapa gue, gak ada hak lo buat ikut campur masalah gue!”
”Gue Cuma ngasih tau lo norak, biar lo bisa jaga sikap didepan siapa tuh namanya? An..Anda,Angga, apalah, entar lo diturunin ditengah jalan lagi gara-gara kelewat norak, hahaha”
”Satu, dia Anjar! Dua, dia gak kayak lo yang gak bisa bersikap manis sama cewek, tiga, cukup segini aja lo ikut campur di dalam setiap masalah gue!”
”Empat?” Aldo semakin rese.
Tak mau berkata-kata lagi, Linda menendang kaki Aldo dan meninggalkannya.
”Sukurin!” Icha hanya mengucapkan kata itu mengiringi kepergian Linda.
Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu Linda, dia berlari menuju parkiran, tapi akhirnya dia berhenti, dia ingat kata-kata Aldo bahwa jangan norak!! Akhirnya dia memilih untuk berjalan santai, sampai dia melihat Anjar berdiri disamping mobilnya, dia melambaikan tangan pada Linda, dan Linda membalasnya.
”Udah lama ya kak?” tanyanya polos.
”Enggak kok, baru aja, kita berangkat sekarang yuk!”
Linda mengangguk pelan.
”Tunggu!” seorang cewek memanggil dari belakang, dan dia adalah Deline.
”Kalian mau ke mana?”
”Bukan urusan lo!” Anjar tetap masuik ke mobil tapi lengannya ditarik oleh Deline.
”Anjar lo apa-apaan sih! Dia baru masuk berapa hari aja udah lo ajak jalan? Dan gue yang udah sekian lama ngejar-ngejar lo, lo gak pernah peduliin gue? Jahat ya lo!”
”Karena lo bukan dia!”
”Apa sih hebatnya dia dibanding gue? Gue punya segalanya yang bisa gue kasih ke lo!”
”Lo terlalu agresif! Ngerti! Norak tau gak.”
”Apa?! Hey, sadar dong gue kayak gini juga gara-gara lo! Bisa gak sih lo hargain gue sedikit?”
”Gak sama sekali, karena lo sendiri gak pernah mau ngehargain orang lain, lo seenaknya make kepopuleran lo buat nginjek-nginjek orang lain, termasuk yang kemarin lo lakuin sama Linda dilapangan!” Anjar menaikkan telunjuknya di depan wajah Deline.
”Jadi mau lo apa?”
”Gue mau lo stop ngejar-ngejar gue dan jangan ganggu gue!!”
Deline tak habis pikir dengan perlakuan Anjar, perasaannya campur aduk, malu, marah, sedih. Semua memandangi pertunjukkan heboh itu, termasuk Linda. Linda sekarang benar-benar tak menyangka, sekarang dia akan jalan bareng gebetan Deline, kakak kelasnya yang ditakutin banyak orang. Anjar memberinya komando untuk masuk ke mobil dan berhenti meladeni cewek ’gila’ tersebut.
”Kak kayaknya kita gak usah pergi deh.” kata Linda saat duduk di dalam mobil.
”Kenapa? Gara-gara dia?” Anjar menunjuk Deline diluar mobil, dan Linda mengangguk. Anjar menggeleng dan segera tancap gas meninggalkan sekolah.
Label: cerita berseri
”Kamu kenapa Lin?” kak Dhika bertanya saat melihat air muka Linda yang keruh.
”Sebel!”
”Kenapa sih? Gak enak banget lihatnya juga, bikin gak mood ajah!”
”Ya udah gak usah dilihat!”
”Ya ampun Lin.. ya udah sorry, emangnya kamu kenapa sih?”
Kak Dhika mengacak-ngacak rambut Linda yang sudah acak-acakan itu. Linda menepis tangan kakaknya itu.
”Apaan sih?!” Linda masih saja jutek.
”Sini duduk, kamu ceritain sama kakak deh.” Kak Dhika menariknya ke sebuah sofa panjang di ruang tengah. Linda masih saja terdiam, dia hanya memamerkan mulutnya yang masih manyun.
”Cerita dong, kakak mau tau cerita kamu.”
Linda menarik napas panjang.
”Emang kalo acara MOS harus pake acara mempermalukan adik kelas ya?”
”Sedikt, emangnya kenapa?”
”Linda tadi malu banget kak gara-gara dikerjain sama senior galak, mukanya aja kayak nenek sihir! Amit-amit deh!”
”Hahaha, emangnya kamu diapain?”
”Tadi kan aku gak sengaja numpahin air minum dia, terus bajunya basah mana kotor pula!”
”Gawat itu.” Kak Dhika berkomentar.
”Jelas, mana paginya gara-gara Linda dia dimarahin sama anak OSIS yang lain, tapi bukan salah Linda sepenuhnya juga sih, aku tau aku salah waktu itu aku main masuk aja tanpa laporan gara-gara aku terlambat, tapi dia juga gak harus terlalu membesarkan masalah kan? Pantes aja kalo dia dimarahi!” Linda berapi-api.
”Hahaha, kamu tuh ya. Mestinya di hari pertama tuh kamu bisa sedikit kalem dong, walau segimana resenya senior kamu itu. Terus yang bikin kamu malu apa?”
”Ya itu tadi, gara-gara baju dia kotor aku disuruh puter-puter lapangan, mana mata aku ditutup terus gak boleh pake sepatu, kan panas banget lapangannya.”
”Cuma itu aja?”
”Ya enggak lah.. pas lagi lari-lari aku kepeleset, aku jatuh dan rok aku kotor banget.” Linda memperlihatkan roknya yang kotor pada kakaknya itu.
”Dan gak itu aja, pas udah diketawain rame-rame aku kan lari, eh.. tau-taunya aku kejedot tiang bendera. Yang paling bikin aku sedih dan kecewa anak OSIS yang belain aku didepan senior galak itu juga ikutan ketawa, padahal tadinya aku sempet tertarik sama dia, pokoknya sebel banget deh!!”
”Hahahaha, kasian banget adik kakak ini, cup cup cup.”
”Kok malah ikutan ngeledek sih?”
”Bercanda kok de..” Dhika mencium pipi Linda dengan lembut, itu membuat Linda tersenyum.
”Kamu istirahat sana, besok kamu harus siapin mental buat diketawain, hahaha” tawanya kian menyakitkan hati Linda.
”Kakak!!! Jahat banget sih?” Linda segera bangkit dan masuk ke kamarnya, Kak Dhika semakin terbahak-bahak.
Linda semakin ragu untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah, perasaan malu masih menghantuinya, tapi kak Dhika terus menyemangati adiknya itu. Dan pada akhirnya Linda memutuskan untuk masuk, itu juga setelah kak Dhika kasih sebuah rencana untuk membalas Deline, kalau-kalau Deline masih mengusiknya.
Dengan pedenya dia masuk walau ada beberapa orang yang menatapnya, dia sudah tak mau tahu lagi, tapi tekadnya meleleh saat melihat Deline dan teman-temannya melangkah ke arahnya. Linda mau menghindar, tapi ingat rencana kakaknya Linda mengurungkan niatnya, malah dia pengen dia di kerjai sekali lagi, biar dia bisa melancarkan aksi balas dendamnya itu. Haha..
”Wess.. masih punya muka juga nih anak.” dia menyetop langkah Linda, dan melihat Linda dari bawah ke atas.
”Kenapa enggak?”
Deline sepertinya kaget mendengar jawaban Linda yang cukup ’berani’ itu.
”Oh.. udah berani ya lo sama gue, gak kapok gue kerjain ya?” muka tengil Deline terpancar.
”Gak.”
”Oke, gue salut sama lo! Tapi sayangnya gue gak mood buat ngerjain orang pagi-pagi, lo tinggal siap-siap aja, oke! Bye honey..”
”Oke, aku tunggu ya kak Deline yang manis!!” Linda menekan suaranya saat mengucapkan kata ’manis’, ya dia bukannya memuji, justru dia menyindir. Dia semakin relax hari itu. Dia biarkan dirinya tenang duduk dibangku reyot yang ada di kelasnya itu.
”Lin, kata anak-anak lo nantangin kak Deline ya?” Icha langsung melontarkan pertanyaan itu pada Linda.
”Iya emang kenapa?”
”Gila lo ya? Gak kapok lo dipermalukan kayak kemaren?”
”Justru ini saat yang tepat buat gue balas dendam Cha! Haha”
”Sarap lo ya!” Dery menambahkan.
”Kamu gak takut ya Lin? Padahal kan kemaren kamu nangis gara-gara kak Deline?”
”Aduh Abel.. jangan diingetin dong, ntar gue gak jadi nih.”
”Sorry..”
”Emang lo ada rencana apa?” Icha kembali bertanya.
”Lo liat aja. Hahaha..”
”Serem ketawa lo, ada hawa jahatnya!” Dery bergidik.
”Anjrit lo, hehe, tapi emang bener, udah deh gak usah pada riweuh deh, mending gue liat tugas MOS yang kemaren dikasih sama tuh nenek sihir, gue kagak ngarti, bahasanya gak bener, emang bego kali ya tuh cewek, aduh..aduh..” Linda geleng-geleng.
”Buset Lin.. lo panggil kak Deline nenek sihir? Pake bego lagi!” Dery kagum.
”Dia gak pantes dipanggil kakak! Apa lagi disebut pinter? No way!!” Linda makin nekat.
“Sstt.. ntar kedengeran Linda, kan nanti Abel kebawa-bawa gimana?”
”Gak apa-apa, makin seru kalo kalian bertiga malah ikut dijailin sama tuh senior menor.”
”Dasar.. Lin, recana lo apa sih kok pede banget bakalan bisa ngalahin dia?”
”Ada deh, dahsyat!!” wajahnya semakin berbinar-binar.
Label: cerita berseri
Pagi-pagi..
BRUUKK..
”Shit!”
Aku kaget saat mendengar ucapan tersebut, ku coba untuk melihat orang yang baru saja kutabrak, tapi sulit, mataku kelilipan bulu mataku sendiri, memang aneh, tapi itulah yang sering terjadi, hampir setiap saat bulu mataku rontok dan menyelip masuk kedalam mataku, kata orang kalau bulu mata rontok berarti ada yang kangen, tapi kalau dipikir-pikir lagi siapa juga yang kangen sama aku sampai segitu seringnya? Harapku, semoga yang kangen sama aku berhenti deh, aku gak mau kelilipan sama bulu mataku sendiri. (Pedenya..)
”Jalan liat-liat dong!” dari suaranya sudah kupastikan dia seorang wanita, tapi tunggu.. kayaknya aku kenal sama pemilik suara itu. Suara yang tinggi, cempreng dan bisa bikin telinga sakit!
Mampus!! Itu pasti kak Deline..
Cepat-cepat kucari bulu mata yang masuk kemataku, dan saat sudah kudapat kujepit dengan telunjuk dan jempol ku, kutarik dan sekarang aku sudah bisa melihat.
”Maaf kak..”
”Dari kemarin lo bikin masalah mulu sama gue, dan dengan gampangnya lo minta maaf?!! Lo liat gak baju gue kena minuman?” dia berteriak dengan suara yang sangat cempreng, dia menunjuk bajunya yang kebasahan, dan astaga.. gak Cuma basah tapi juga kotor, sepertinya minuman itu adalah minuman bersoda yang pewarnanya kelewatan banyak.
”Maaf kak, tadi mata saya kelilipan.”
”Haha (tertawa dengan sangar), kelilipan apa? Mata lo aja yang gak bener!”
”Kelilipan bulu mata kak..” aku malu mengucapkannya.
”What?? Bulu mata? Gila, baru kali ini gue tau bisa kelilipan sama bulu mata sendiri, jangan bohong!!” dia gak percaya pada ucapanku, jelaslah.. kelilipan bulu mata itu ’aneh’.
”Beneran kak, saya minta maaf.”
”Dasar aneh! Mau gue maafin?”
Aku mengangguk pelan.
”Ada syaratnya.” dia tersenyum jahat, aduh.. aku mau diapain??
Aku berlari menuju kelas, berniat kabur dari kerumunan orang, sudah gak ada harga diri lagi depan semua orang, sudah cukup aku dipermalukan, ingin nangis rasanya, sudah kupastikan pipiku memerah, panas..
Saat kutemui kelasku, segera aku masuk dan duduk dibangku yang sudah mau patah, bangkunya bergoyang, dan berdenyit. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku, aku sudah tidak berani melihat dunia, seakan semua yang ada didalamnya tertawa. Coba bayangkan, ternyata seperti yang aku duga dari awal, kak Deline memang akan berbuat yang macam-macam padaku. Ternyata dia menyuruhku berlari keliling lapangan dengan mata tertutup serta tanpa alas kaki, sebenarnya bukan itu yang membuatku malu, tapi yang membuatku sampai merasa tidak ada tempat untuk menaruh wajahku ini adalah saat berlari aku manginjak genangan air dan terpelesetlah aku, rok ku kotor terkena lumpur yang berwarna coklat pekat, mereka semua menertawakanku dan gak cukup itu saja, setelah bangkit aku segera berlari hendak menghindari kerumunan, tapi tololnya aku tidak memperhatikan jalan, dan akhirnya aku menabrak tiang bendera, sakitnya luar biasa, lahir batin!!! Mereka kembali tertawa jauh lebih keras dari yang pertama, dan aku melihat kak Anjar, dan astaga.. dia ikut tertawa! Walau tidak begitu keras. Aku benci sama dia, ku kira dia satu-satunya orang yang peduli sama aku disekolah, ternyata dia sama saja!
Abel menghampiriku, dia duduk disebelahku dan mengusap pundakku dia ingin menenangkanku, datang lagi Icha dan Dery, mereka teman baruku.
”Linda yang sabar ya..”
Aku hanya diam, sungguh aku menangis saat itu.
”Linda udah gak usah dipikirin.” Icha turut berucap.
Akhirnya aku tidak lagi menutup wajahku dengan kedua tanganku, ku tarik nafas dalam-dalam.
”Gimana gak dipkirin? Emangnya yang tadi itu masalah sepele? Itu menyangkut harga diri, dan kalian juga tadi liat kan gimana semua orang ngetawain gue? Malu setengah mati tau gak kalo kalian mau tau!”
”Ya emang sih.. tapi gak usah lo permasalahin lagi, besok juga pasti pada lupa kok.”
”Gue gak yakin.” aku tertunduk.
”Udahlah, kalo menurut gue sih kalo lo dipermaluin kayak gitu jangan dipikirin, pede aja! Anggap aja lo lagi menghibur orang-orang, malah semakin lo kayak gini orang makin ngetawain lo, itu berdasarkan pengalaman gue loh, gue juga sering dipermalukan depan umum.” Dery sedikit manyun, aku ingin tertawa melihat ekspresinya, tapi aku hanya mampu tersenyum, kupukul lengannya dengan lembut. Aku kembali tersenyum..
Aku berjalan menyusuri jalan, mataku menerawang kesegala arah, terkadang ku tatap langit penuh harapan. Kulipat tanganku, sesekali kutendangi batu-batu kecil yang ada dihadapanku. Aku memutar kembali peristiwa saat pulang sekolah, waktu itu aku berpapasan sama kak Anjar, dia tersenyum padaku, aku tidak bisa mengartikan senyumannya saat itu, kupikir dia meledekku dengan kejadian saat aku dipermalukan didepan umum, ya sudah aku kasih saja muka tercuekku padanya, nyesel sih, mungkin saja dia memang mau senyum sama aku? Haduh.. kenapa sih apa yang aku lakuin kayaknya salah melulu? Saat sedang enak-enaknya melamun aku dikagetkan sama seseorang.
”Hayo ngelamun aja!”
Aku menengok, Aldo lagi Aldo lagi..
”Kenapa emang? Ngapain sih lo ikut campur, udah sana jauh-jauh!” aku mendorongnya.
”Yee, jutek amat bu? Biasa aja atuh.” dia manyun.
”Kenapa? Suka-suka gue mau ngapain aja!”
”Sensi amat sih lo sama gue sekarang? Kenapa sih? Gara-gara kejadian yang dilapangan?”
Degg, aku diam beberapa detik, maksud dia apa ngebahas masalah itu? Mau ngeledekin aku, begitu? Semakin panas saja terik matahari yang kurasakan.
”Mau ngeledekin? Silahkan!!” aku menjauhinya.
”Katanya mau diledek, kok malah ngejauh?” dia tersenyum genit, membuatku ingin meninju wajahnya.
”Linda tungguin!! Gue bercanda.”
Terus kupercepat langkahku, dan dia berlari. Sampai akhirnya dia meraih tanganku, kulepas genggamannya.
”Bisa gak sih lo gak ganggu gue sehari aja!”
”Gue gak pernah ganggu lo kok.”
”Hah! Gak pernah? Yang sekarang ini apa namaynya kalo bukan ngeganggu?” aku kembali pergi meninggalkannya, tapi kali ini dia tidak lagi mengejarku, kupikir dia sudah tahu diri.
”Sumpah gue gak pernah punya maksud bikin lo kesel.” Aldo berkata dengan lirih.
Tidak sama sekali kutengok dia, biarkan saja..
Label: cerita berseri
Setelah libur semester yang lumayan lama, akhirnya aku akan menghadapi yang namanya Masa Orientasi Siswa atau MOS. Segala rupa kebutuhan sudah dipersiapkan, berdandan layaknya orang gila salah satu yang membuat ku kesal, ”kenapa juga harus dandan jelek begini? Toh gak ada manfaatnya.” begitu pikir ku dalam hati. Dengan berat hati aku berangkat menuju sekolah baru ku itu, dan dalam 30 menit aku sudah menapakan kaki didepan gerbang sebuah SMA negeri di Bogor. Senyumku terpancar, tapi seketika sirna saat aku melihat sekelebat orang yang kukenali, dialah Aldo. Sebelum melangkah masuk aku memberikan senyum indahku pada kakak ku yang mengantar ku tadi kesekolah. Aku mempercepat langkah karena sebentar lagi bel akan dibunyikan, dan benar saja saat sedang berlari kecil dengan tidak sengaja aku menabrak seorang cowok, terpental lah tubuhku. Aku sedikit mendongak keatas, dia melihat seorang cowok yang ganteng banget, badannya tinggi tegap, dadanya bidang (kayaknya kalau diterawang), rambutnya panjang sekuping, matanya bulat, rahangnya tegas, dan senyumnya... manis sekali. Cowok itu ikut terduduk disampingku, membuyarkan lamunanku dengan jentikkan jarinya.
”Hei, kamu siapa? Anak baru ya?”tanyanya lembut.
”Iya, aku anak baru, maaf tadi aku gak sengaja nabrak kamu.” Linda dibantu berdiri.
”Kenalin aku Anjar, kakak kelas kamu kelas XI IPA 2, aku anak OSIS disini.”
Aduh.. mampus!! anak OSIS? Bisa dibunuh gue! aku tegang, kaki ku gemetaran.
”Hahaha, jangan tegang gitu kali, biasa aja, aku gak galak kok, ya udah kamu masuk kelas sana nanti dimarahin sama senior.” dia kembali tersenyum.
Dari pada mati berdiri disitu, ku langkahkan kakiku menuju kelas X 3. akhirnya ketemu juga, tapi karena telat sudah pasti Linda dipelototi sama seniornya. Badannya tinggi semampai, body-nya sexy kayak model, kulitnya putih mulus, rambutnya coklat panjang terurai, tapi dandanannya berlebihan seperti mau ke kondangan, tapi gak jelek kok, orang emang dasarnya cantik! Dia menatap ku sinis, matanya melirik tajam, senyumya seperti Nia Ramadhani kalau lagi peran antagonis, membuatku mati seketika. Dengan berani aku melangkahkan kaki menuju salah satu bangku kosong dipojok kelas, dan sialnya cewek itu menyetop langkahku. Dia menghampiri aku sambil berkacak pinggang, menatap ku garang.
”Songong amat lo maen ngeloyor masuk aja, udah telat bukannya laporan sama kakak kelasnya malah main masuk aja, lo pikir ini sekolah nenek moyang lo!!”
Mati deh!! aku membalikan badan.
”Ma..ma..maaf kak.”
”Seenak jidat lo minta maaf!!” dia mendorong tubuh ku dengan cukup keras, Linda hanya tertunduk, seisi kelas juga terdiam.
”Jawab!!” dia semakin sangar, tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Deline.
”Deline!!”
Cewek itu berbalik,namanya Deline? Aku bertanya dalam hati. Dia tiba-tiba memamerkan senyumnya yang manis tapi menakutkan (menurut ku).
”Eh Anjar, kenapa?”
”Lo ngapain?”
”Gue.. gue cuma marahin nih anak, abisnya tengil banget.”
“Lo tau kan peraturan kita? Gue gak suka lo seenaknya sama adik kelas, apalagi ini hari pertama, ngerti Madeline Caroline Putri?!” Anjar menyebut namanya dengan sangat lengkap.
”Iya gue ngerti!” Deline tampak kesal dipermalukan didepan ku.
Sukurin! Kataku dalam hati. Aku tersenyum kecil, sebenarnya hendak tertawa tapi aku tahu diri, Deline kembali menatapku seakan ingin menerkam. Aku segera pergi dari hadapannya dan duduk disebelah cewek manis, kelihatannya sih centil.
”Gak apa-apa kan gue duduk disini?”
”Gak apa-apa.”
”Nama lo siapa?”
”Aku Abelia anastasya, kamu bisa panggil aku Abel, kamu sendiri?” dia menjulurkan tangannya hendak menyalami ku, langsung ku jabat tangannya.
”Gue Linda Maharani, panggil gue Linda.” aku memberikan senyuman manis padanya.
Saat Anjar sudah pergi, Deline kembali menghampiriku.
”Jangan lo kira karena Anjar ngebelain lo, lo bisa bebas! Lo udah bikin gue malu depan teman-teman lo, dan gue jamin lo bakal dapet balasannya, inget itu!” dia menaikkan suaranya dengan jari telunjuk di depan hidungku, aku menahan napas dan menghembuskannya saat dia pergi menjauhiku.
Entah kenapa aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Aku sadar ini pertama kalinya aku dibela sama cowok ganteng. Kan selama ini aku dikerjai mulu sama Aldo kunyuk itu. Ternyata Abel menatapku heran, dan mengguncangkan tubuhku. Dia mengingatkan ku untuk jaga sikap, dia takut kalau aku dimarahi lagi sama senior galak itu. Karena sebenarnya aku pun takut, aku menyetop lamunanku. Pengen ketemu lagi sama Anjar...
Label: cerita berseri
Hari itu adalah hari minggu, kegiatan rutin bagi ku untuk jogging tiap minggu pagi, sekedar mengitari perumahan, melihat kawanan burung indah bersenandung, mentari pancarkan kehangatan, angin berhembus membelaiku hingga tampak rambut ku pun ikut tersibak. Pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan diri, dari sepatu kets putih, T-shirt putih, sweater kuning muda, celana jeans pendek, dan tak lupa satu botol aqua. Saat kaki mulai melangkah aku sedikit mengajukan permohonan pada Tuhan agar hal yang biasanya terjadi tidak terjadi pagi itu, aku sedikit mengingat kembali kejadian saat... lupakan!
Sekitar jam setengah enam pagi aku sudah mulai berlari pelan mengitari taman kemudian menuju ujung perumahan. Ujung perumahan adalah tempat spesial untuk ku disaat melepaskan beban kehidupan, disana terdapat sebuah danau mungkin buatan atau apalah. Disekitarnya hanya tanah kosong berselimut rumput hijau yang membentang, disitu memang belum dibangun sebuah hunian, alasannya apa aku pun tak tahu, aku hanya berharap tempat itu akan selalu seperti itu. Saat tiba disana, aku sedikit membungkuk melepas lelah, tak terlalu lama untuk melepas lelah, kemudian aku menatap ke depan, menatap tempat kesayangan ku itu, senyum indahkan wajah ku. Dengan semangat berkobar kembali aku berlari ke tepi danau, sedikit bermain air. Ada satu hal yang membuat ku tenang dikala berada disitu, yaitu disaat aku sedang berada di tempat tersebut, tak pernah sekalipun Aldo datang mengusik, hatiku puas. Tak ingin berlama-lama, aku segera melanjutkan kegiatan lari pagiku, saat kurang lebih lima meter berlari aku kembali menengok dan tak lupa kembali tersenyum. ’Sebentar lagi sampai, mudah-mudahan tuh bocah lupa kegiatannya’ begitu harapan ku setiap kali hampir tiba dirumah sesudah lari pagi, ada apa ya?
BYUURRR...!!!
”Kena lagi! Hahaha”
”Aldo!! Udah gue kasih tau berapa kali sama lo, jangan nyiram gue kalo habis jogging!”
”Gak apa-apa Lin, gue mandiin sekalian pake air bekas gue cuci mobil, dari pada pake air bersih, sayang tau! Buang-buang duit, lagian mubazir kalo nih air langsung di buang, biar ada manfaatnya sedikit.”
”Emang dasar lo ya!! Rese!!”
”hahaha.” tawanya membahana.
BUUKK!!!
aku yang tak mau kalah, membalas serangan Aldo, aku melemparinya dengan sebuah botol aqua yang kubawa tadi pagi, dan happy tralala botolnya tepat mengenai jidat Aldo.
”Mampus!! Hahaha.” aku pun berlalu dengan tawa, sedang Aldo hanya monyong-monyong diam terpaku di TKP, tak bisa berbuat apa-apa, tapi dia tersenyum lebar.
”I like you girl.”
What???
Hari-hari pasca UAN, aku sangat jengkel. Bukan karena takut nilai ulangan ku kecil, it’s impossible! Bukannya pamer, aku merupakan siswi terbaik disekolah. Ada satu hal yang membuatku manyun-manyun gak karuan. Tahu apa penyebabnya? aku baru saja diberitahu oleh mama bahwa Aldo akan didaftarkan disekolah yang sama dengan ku, jelas saja aku marah, sebab nasib sial yang bertubi-tubi sejak TK sampai SMP yang kukira akan berakhir dengan happy ending, ternyata sebuah angan. Aku melancarkan aksi mogok ngomong, bukan aksi mogok makan soalnya aku doyan banget makan. Sementara Aldo sangat senang dengan hal itu, kenapa? Mungkin dia berpikir akan tetap bisa berbuat jahil pada ku, atau mungkin ada hal lain??
Selain sifat jahil Aldo, ada lagi satu hal yang membuat ku benci bila harus disekolahkan disekolah yang sama dengan Aldo, yaitu persaingan kami. Kami adalah dua murid berprestasi, kami manjadi saingan sejak SD, tak ada habis-habisnya. Tapi ada yang membuat ku sedikit heran, saat hari belajar biasa bisa dibilang nilai Aldo tidak dapat menyaingi nilaiku, tapi mengapa saat ada tes dia selalu menyamai nila ku? ’dia pasti nyontek’ aku pernah berpikiran demikian, tapi bukti mengatakan lain. Dulu aku pernah menantang Aldo dalam mata pelajaran matematika, dan hasilnya memang bagus. Jadi apa yang mebuatnya seperti itu? Apa dia memakai sihir? Entahlah..
Yang jelas aku teramat tak suka kalau aku harus satu sekolahan lagi, apa lagi dalam rencana ku saat SMA nanti, aku mau PUNYA PACAR!! Yang pasti sudah jelas Aldo akan hancurkan impian itu, bagaimana tidak? Dia selalu mempermalukan ku, jadi akankah aku punya pacar kelak??
Semoga...
Label: cerita berseri
Pagi-pagi begini aku sedang lari tergopoh-gopoh, pipiku basah, di bajuku terlihat noda mungkin seperti lumpur. Dibelakangku ada seorang anak lelaki yang berlari mengejarku, tangannya penuh lumpur, sepertinya dia yang meninggalkan noda lumpur itu pada baju baruku. Umur kami bisa diperkirakan sekitar 9 tahun . aku berlari hingga tiba didepan ibu dan memeluk ibu sebari menangis. Ibu berusaha untuk meredakan tangisku yang sesenggukan, sementara lelaki jahil itu bersembunyi dibalik pohon, dia menyeringai, tawanya jahat lalu pergi menjauh dari situ karena takut di damprat ibu ku, sebetulnya sang ibu tahu siapa yang membuat anaknya ini menangis, ia pasti Aldo! Dia tahu betul anak lelaki itu sangat suka menjahili anaknya, tapi sang ibu tak mau memarahi bocah nakal tersebut, ’masih kecil’ pikirnya, dia hanya mengajak anaknya masuk untuk bersih-bersih.
Linda, itulah aku, aku adalah seorang gadis yang ceria penuh semangat belajar tapi sedikit cengeng. Maka dari itu aku selalu dikerjai sama teman lelakiku yang bernama Aldo. Entah apa yang membuat Aldo sangat senang menjahiliku. Kami adalah teman satu sekolah dan sekelas, hampir tiap hari aku dibuat menangis karenanya .
Kian hari kami makin tidak akur, terbukti saat kami sudah duduk di bangku SMP. Lagi-lagi kami satu sekolah walau tidak satu kelas. Orang tua kami memang dekat, sehingga kami disekolahkan disekolah yang sama. Di suatu hari yang terik, sekitar jam satu siang kami berdua pulang berbarengan, tiba-tiba Aldo berlari dari belakang dan dengan berani dia menaikkan rok ku yang tingginya selutut itu. Sontak aku kaget dan mengejar bocah itu. Tiba-tiba saat tengah berlari aku merasakan sakit yang luar biasa pada perut bagian bawahku, aku meringis. Kemudian aku terduduk di sebuah batu di pinggir jalan, Aldo yang sudah jauh kemudian kembali menghampiri ku dengan hati-hati, takutnya aku hanya berpura-pura kemudian menangkapnya dengan mudah.
”kenapa Lin?” Aldo membongkokkan badannya, sedangkan yang ditanya hanya diam dan tetap meringis.
”Linda lu jangan bercanda deh.”
”Eh, yang bilang gue bercanda siapa?sakit beneran tau gak!”
”Ya udah sini gue bantu.” Aldo berusaha membopong tubuh Linda.
”Gak mau ah! Nanti lu jailin gue lagi.”
“Gak kok! lu lagi sakit begini gak mungkin gue ngejailin lu.”
”Emangnya lu bisa dipercaya gitu? Gue tau betul sifat lu.” aku keukeuh.
”Eh cerewet banget sih lu! Udah deh gak usah banyak cincong.” Aldo kemudian berusaha membuat ku berdiri. Dan betapa kagetnya Aldo ketika melihat batu yang tadi ku duduki, secara reflek dia menengok ke arah rok ku.
”Linda rok lu ada darahnya!!!!” dengan tangkas dia menggendong ku di punggungnya, tasnya di pindahkan ke depan dadanya dan berlari dengan cepat, sementara aku berontak di gendongan.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah ku dan Aldo mengetuk pintu rumah dengan keras. Tak butuh waktu lama, ibu ku segera keluar dengan wajah yang agak heran.
”Ada apa Aldo?”
”Tante, Linda roknya ada darahnya, bawa kerumah sakit aja tante, buruan ini gawat!!!”
Ibu ku tertawa dengan keras, kemudian mengelus rambut bocah lelaki itu sebari berucap.
”Aduh Aldo, makasih kamu sudah khawatir sama Linda, kalau berdarah seperti itu wajar untuk anak gadis seumuran Linda, itu namanya menstruasi sayang, entar juga kamu tau itu kok.” tante Lisa tersenyum.
”Oh begitu, hehe, Linda kenapa gak ngomong?!!” Aldo menyalahkan ku.
”Enak aja, abisnya gue mau ngomong gak dikasih kesempatan sama lu!”
”Dasar!! Baju gue kan jadi kena darah lu tau!”
”Yang nyuruh lu gendong gue siapa?”
”Sudah dong, ya udah nanti tante cuciin baju kamu ya, sekarang kamu pulang dulu, Linda gak kenapa-kenapa kok.”
”Biar bibi dirumah aja yang cuciin, siang tante.” tak lupa Aldo menjulurkan lidahnya pada ku kemudian berlari dan hilang....
Label: cerita berseri